Indolinear.com, Serang - Sekolah di Banten harus memperkuat muatan kearifan lokal sebagai basis penerapan pendidikan karakter. Langkah itu diambil sebagai upaya untuk membentengi generasi muda dari pengaruh negatif perkembangan zaman.

Seruan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD Banten Nuraeni pada dialog publik DPRD Banten di studio Banten Raya TV, Gedung Graha Pena Radar Banten, Kota Serang. "Kenyataan (wajah pendidikan-red) memang sangat miris dan perlu disikapi dengan ketegasan dan aturan," katanya.

Dialog yang terbagi menjadi empat segmen ini juga menghadirkan Kabid Ketenagaan dan Kelembagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten Adolfina Nopelis. Keduanya dipandu host Halimah Tusya Diah.

Sebelum kedua narasumber memaparkan, host membuka dengan prolog wajah pendidikan di Banten yang berhadapan dengan realitas perkembangan zaman. Tidak hanya dampak positif, dampak negatif perubahan zaman seperti kemerosotan moral, penyalahgunaan narkoba hingga tawuran yang melibatkan pelajar.

Menyikapi itu, Nuraeni mengatakan, kenyataan yang melanda wajah pendidikan di Banten harus menjadi perhatian semua komponen baik pemerintah ataupun masyarakat. Semuanya harus berjalan bersama dalam menjawab problematika tersebut. "Pendidikan di Indonesia, khususnya di Banten memang masih memiliki kekurangan, padahal pendidikan merupakan hak dasar," katanya.

Menurutnya, Banten yang dikenal sebagai daerah religius menjadi potensi dalam membangun karakter anak mudanya. Karenanya, sekolah harus memperkuat muatan lokal yang ada sebagai basis pendidikan karakter. "Harus ada muatan lokal kebantenan untuk memfilter generasi kita yang akan datang," ujar politikus Demokrat ini.

Apalagi, lanjutnya, generasi di era sekarang masuk sebagai generasi gemilang yang akan menopang kemajuan daerah. "Tentu untuk mendukung itu kewajiban kita bisa menekan upaya anak-anak didik kita yang krisis moralnya semakin tinggi," kata Nuraeni.

Ia mengimbau, agar orangtua siswa ikut melakukan pengawasan terhadap perkembangan anak-anak di lingkungan rumah. Sebab, tidak bisa sekolah secara penuh mengawasi siswa ketika di luar jam sekolah. "Dukungan ini yang harus dikompakkan antara masyarakat, pemerintah, dan pendidik yang ada di sekolah," katanya.

Kabid Ketenagaan dan Kelembagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten Adolfina Nopelis mengatakan, gairah pendidikan di Banten cukup bergairah. Ini dibuktikan dengan banyaknya pendirian sekolah baru mulai dari PAUD, TK, hingga perguruan tinggi.

Pemprov Banten di bawah kepemimpinan Gubernur Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Andika Hazrumy juga memasukkan pendidikan sebagai salah satu prioritas programnya. "Masuk ke RPJMD, Pemprov akan membangun infrastruktur perluasan sekolah baru," katanya.

Terkait pendidikan karakter, kata Adolfina, potensi keberagaman suku, budaya yang ada di Banten harus ditumbuhkan. Selain itu, nilai-nilai gotong royong juga harus terus ditanamkan melalui sekolah. "Penekanan terhadap gotong royong tidak bisa dipisahkan," katanya. (Uli)