Indolinear.com, Tangsel - Rencana pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang digagas sejak tahun 2014, kini memasuki babak baru. Setelah tahun lalu menyelesaikan Basic Engineering Design (BED), kini Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mulai menyusun Desain Rinci atau Detail Engineering Design (DED).

RDE merupakan program prioritas BATAN yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai penyedia teknologi (technology provider) terkait penyediaan energi listrik dan panas tinggi guna menopang kebutuhan lndustri nasional serta menjadi unggul di tingkat regional.

Pada tahun 2015, BATAN telah melaksanakan pra-proyek RDE bekerja sama dengan konsultan RENUKO (PT. Rekayasa Engineering, Nukem Technologies GmbH dan PT. Kogas Driyap Konstan), yang merupakan gabungan antara konsultan dalam negeri dan luar negeri.

Tahap pra-proyek ini menghasilkan dokumen penting, yakni desain konseptual dan draft Laporan Analisis Keselamatan (LAK). Desain konseptual tersebut dijadikan sebagai dasar penyusunan BED. Pada tahun 2017, proyek RDE mendapatkan izin tapak dari Badan Pengawas Tenaga Nukiir (BAPETEN). Untuk selanjutnya, BATAN akan berusaha memperoleh persetujuan desain RDE, dimana pada tahap ini diperlukan dokumen DED dan LAK.

Pada tahun 2018, BATAN mulai menyusun DED dengan melibatkan sebuah konsorsium yang terdiri dari beberapa institusi perguruan tinggi dan pihak swasta. DED menjadi sebuah tahapan yang harus disiapkan dan disusun secara detail dengan mempertimbangkan aspek keselamatan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan pada reaktor.

Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) SATAN, Geni Rina Sunaryo mengatakan, DED akan diselesaikan dalam kurun waktu yang singkat dan segera di review oleh Badan Tenaga Atom Internasional/ International Atomic Energy Agency (IAEA).

"Tim yang bekerja menyusun DED harus bekerja keras utuk mencapai target yang telah ditetapkan, yakni pada bulan Juni 2018 harus sudah jadi revisi nol, dan akan di review oleh IAEA," ujar Geni.

Selesai di review dan dilakukan perbaikan sesuai dengan rekomendasi yang diberikan IAEA, DED diharapkan rampung pada awal September 2018 dan akan di launching pada Sidang Umum lAEA di Wina, Austria. DED yang merupakan 100 persen karya anak bangsa ini akan dijadikan sebagai cikal bakal Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bila kelak Indonesia menyatakan Go-Nuclear.

Pemerintah Indonesia meialui Kementerian Ristekdikti memberikan dukungan penuh terhadap penyeiesaian DED melalui program Flagship lNSINAS. Diharapkan program ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperluas dan memperkuat sinergi antar institusi seem nasional dalambmenyelesaikan DED.

Sementara, menurut Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto, ada proses panjang yang dimulai sejak tahun 2014 lalu, dari obrolan kecil soal keinginan membuat pembangkit listrik dengan kapasitas 3 sampai 5 megawatt, hingga diseriusi dalam pertemuan 3 Menteri membahas RDE, dan akhirnya tertuang dalam RPJMN. (sophie)