Indolinear.com, Santa Barbara - Ilmuwan Amerika Serikat telah menghitung jumlah plastik yang pernah diproduksi di seluruh Bumi sejak 65 tahun lalu. Hasilnya sangat mencengangkan, yakni 8,3 miliar ton -- setara dengan 25.000 kali gedung Empire State di New York atau satu miliar gajah.

Satu hal yang paling disoroti dari hal tersebut adalah, benda-benda yang terbuat dari plastik, termasuk bungkus produk, hanya digunakan dalam waktu singkat. Padahal, dibutuhkan waktu ratusan tahun untuk menguraikannya di dalam tanah.

Seperti dikutip dari Liputan6.com (20/03/2018), saat ini lebih dari 70 persen produksi plastik total terbuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Meski demikian, banyak limbah plastik berakhir di tempat yang tak seharusnya, termasuk lautan.

"Kita dengan cepat berjalan menuju 'Planet Plastik', dan jika kita tidak ingin hidup di dunia semacam itu, maka kita harus memikirkan kembali cara menggunakan beberapa material, terutama plastik," ujar Dr Roland Gayer.

Artikel yang disusun oleh ahli ekologi industri dari University of California, Santa Barbara itu dipublikasi di jurnal Science Advances. Penelitian yang mereka lakukan, merupakan perhitungan global pertama tentang jumlah, penggunaan, dan limbah plastik.

Sejak diproduksi secara massal pada 1950-an, saat ini polimer ada di sekeliling kita, mulai dari pembungkus makanan, baju, hingga bagian pesawat. Namun, daya tahan yang dimiliki plastik itu justru menimbulkan masalah baru.

Hingga saat ini, plastik yang biasa digunakan sangat jarang yang mudah terurai di alam. Salah satu cara untuk menghilangkan limbah tersebut adalah dengan memanaskannya. Namun, cara tersebut memicu kekhawatiran akan adanya dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan.

Menurut Gayer, saat ini limbah plastik telah menggunung dan jika dikumpulkan cukup untuk menutupi seluruh wilayah Argentina. Tim peneliti berharap, analisis baru mereka akan memberi dorongan dalam upaya untuk menangani masalah plastik.

"Mantra kami adalah, Anda tak dapat mengendalikan apa yang tidak Anda hitung," ujar Gayer.

"Jadi, ide kami adalah memberi tahu angka sesungguhnya. tanpa memberitahu dunia tentang apa yang seharusnya dilakukan. Tujuan kami adalah untuk memulai diskusi nyata dan terpadu," imbuh dia. (Uli)