Indolinear.com, Cape Canaveral - Pencarian monyet berekor lebat yang hilang saat melakukan pendaratan di Atlantik Selatan, dihentikan pada tanggal 13 Desember 1958. Primata itu hilang sekembalinya melakukan perjalanan dari antariksa, di mana ia berangkat dengan diangkut di hidung roket Jupiter AM-13.

Roket berbobot 50 ton yang biasanya mengangkut misil jarak menengah itu, ditembakkan oleh pihak tentara Amerika Serikat dari Cape Canaveral di Florida. Penerbangan roket tersebut berlangsung selama 15 menit.

Gordo yang memiliki tinggi 30 sentimeter dan berbobot 1 hingga 1,5 kg dipilih karena anatomi tubuhnya mirip manusia. Hewan itu juga sangat sensitif terhadap suhu di sekitarnya, dilansir dari Liputan6.com (01/12/2018).

Pejabat pertahanan AS mengatakan, napas Gordo mulai melambat setelah roket diluncurkan dan detak jantungnya menjadi tak teratur. Namun saat roket itu bebas dari gravitasi Bumi, kondisi fisik Gordo kembali normal.

Kala itu, monyet tersebut mengenakan helm yang terbuat dari plastik. Ia pun diisolasi terhadap adanya perubahan suhu dengan lapisan alumunium foil dan fiber glass.

Sejumlah alat pengamat dipasang ditubuhnya, seperti termometer yang terus ditaruh di ketiaknya, mikrofon untuk merekam detak jantungnya, dan instrumen lain untuk mendeteksi napasnya.

Namun, kelompok hak asasi hewan memprotes keputusan AS untuk mengirim Gordo ke angkasa luar.

American Society for Prevention of Cruelty to Animals mengatakan, hanya benda mati yang boleh digunakan untuk tes semacam itu. British Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals juga mengungkapkan keprihatinan dan kekhawatiran serius.

Namun Departemen Pertahanan AS menegaskan bahwa eksperimen tersebut merupakan langkah yang sangat berharga dalam mempersiapkan usaha pertama manusia ke angkasa luar.

Mereka mengatakan bahwa anatomi monyet sangat mirip dengan manusia, sehingga tak ada alasan bahwa manusia tak dapat melakukan penerbangan serupa di masa depan.

Gordo telah melakukan perjalanan sejauh 482 kilometer menuju angkasa luar dan kemudian menempuh perjalanan lebih dari 2.414 km hingga akhirnya terjatuh di Atlantik Selatan.

Gordo hilang setelah parasut yang membawanya gagal berkembang dan kerucut logam yang membawanya tenggelam ke lautan. Tentara AS akhirnya menghentikan pencarian itu setelah enam jam.

Gordo bukan hewan pertama yang melakukan perjalanan ke angkasa luar. Namun, ia merupakan primata pertama yang dapat terbang begitu tinggi. (Uli)