Indolinear.com, Jakarta - Pendiri Matahari Departemen Store Hari Darmawan ditemukan tewas di pinggir Sungai Ciliwung, Desa Leuwimalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. jasad Hari ditemukan warga pagi kemarin sekitar pukul 06.30 WIB. Dugaan sementara penyebab kematian Hari karena jatuh terpeleset.

Perjalanan bisnis Hari Darmawan cukup terjal. Terlatih susah sejak kecil, Hari mampu mengembangkan gurita bisnis Matahari Department Store pada era keemasannya di tahun 90-an.

Matahari berdiri saat Hari membeli toko serba ada di Pasar Baru bernama Toko De Zon, yang artinya The Sun atau Matahari. Hari mengganti nama toko itu menjadi Matahari. Hari membeli toko itu lantaran pemilik De Zion yang merupakan pesaingnya sedang kesulitan keuangan.

Dia membuka gerai pertama Matahari pada 24 Oktober 1956. Gerai tersebut di gedung dua lantai seluas 150 meter persegi di Pasar Baru, Jakarta. Pada 1980-an, Matahari membuka cabang-cabangnya di hampir semua kota besar di Indonesia.

Toko tersebut terkenal sebagai toko jaringan ritel terbesar di Indonesia. Matahari Department Store sebagai toko serba ada merupakan gerai modern dan tanpa saingan pada 1990-an.

Semasa hidupnya, Hari banyak memberi pelajaran khususnya dalam berbisnis. Berikut pelajaran bisnis Hari Darmawan seperti dikutip dari Merdeka.com (07/01/2019).

  1. Murah berbagi ilmu

Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta menuturkan, Hari Darmawan sosok yang punya visi memajukan ritel Indonesia meski usianya sudah tidak muda lagi. Tak hanya itu, Hari juga termasuk sosok yang suka berbagi ilmu kepada pesaingnya.

"Tidak sungkan untuk membagi ilmu. Bila beliau dari luar dan mendapatkan sesuatu, ia akan mengumpulkan kami untuk berikan miles-miles. Ia juga orangnya terbuka dan tak mau menang sendiri," kata Tutum.

  1. Baik dan rendah hati

Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta menuturkan, Hari Darmawan, ialah sosok sangat baik dan rendah hati. "Beliau orang sangat baik," kata Tutum.

Meski usia mendekati 80 tahun, Hari tidak berhenti untuk memajukan sektor ritel Indonesia. "Kami sangat bersedih dan kehilangan. Pak Hari Darmawan, pelopor ritel modern di Indonesia. Ia tidak berhenti untuk memajukan ritel Indonesia," ujar Tutum.

  1. Pekerja keras dan pantang menyerah

Kisah bisnis pria kelahiran Makassar 27 Mei 1940 ini cukup berliku hingga mampu mendirikan Matahari Department Store. Lahir dari keluarga pengusaha produk pertanian, Hari harus melihat usaha keluarganya bangkrut pada usia lima tahun.

Kemudian orangtuanya kembali membangun usaha dari nol. Maka dari itu, sejak usia dini dia sudah terlatih untuk kerja keras, tekun, dan pantang menyerah saat berdagang.

  1. Pintar memilih strategi

Hari Darmawan, dalam mengembangkan Matahari Department Store, memiliki strategis bisnis yang baik. Dia memajang produk dengan lengkap, sehingga konsumen datang ke tokonya dan memilih barang yang mereka suka dengan kualitas terbaik.

Dengan konsep penjualan itu, gerai Matahari milik Hari Darmawan mampu meraih banyak pelanggan tetap. Usaha Matahari kemudian berkembang. Matahari Department Store sebagai toko serba ada merupakan gerai modern dan tanpa saingan pada 1990-an.

  1. Terbuka untuk pengembangan usaha

Seiring berjalannya waktu, Hari Darmawan juga menghadapi banyak pesaing. Dia pun aktif mencari pendanaan untuk investasi membuka gerai baru Matahari Department Store di berbagai pusat perbelanjaan yang baru dibangun.

Hari Darmawan kemudian menjual sejumlah sahamnya di lantai bursa. Dia mendapatkan dana Rp 400 miliar. Namun, dana itu tidak cukup untuk membangun 1.000 gerai baru.

Saat itu Matahari Departmen Store juga punya saingan berat dari Wal-Mart sebuah perusahaan ritel dari Amerika Serikat yang dikendalikan Grup Lippo. Hari Darmawan pun makin ekspansif dengan mendirikan gerai lainnya, yaitu Mega Matahari. (Uli)