Indolinear.com, Bogor - Sebanyak 2.432 anak-anak di Desa Singajaya, Kecamatan Jonggol Bogor menjadi target pencegahan penyebaran wabah penyakit difteri. Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) bersama seluruh kader Posyandu Desa Singajaya, Kecamatan Jonggol Bogor, saat ini sedang menjalankan program Outbreak Response Immunization (ORI) untuk masyarakat di desanya.

Ketua TP PKK Desa Singajaya Yoning Eka Pangestuni mengatakan, ada 18 pos inti, dan 3 sub pos yang disiapkan dalam menjalankan program ORI ini. Program yang telah dilaksanakan sejak Kamis (1/2/18) ini akan dilaksanakan hingga 21 Februari mendatang dengan target anak usia 0-19 tahun. Selain di bulan Februari ini, sambungnya, program ORI akan dilaksanakan kembali pada Maret dan November 2018.

"Untuk target sasaran kami (Posyandu, red) anak usia 0-5 tahun, anak usia 6-19 tahun yang putus sekolah, dan ibu hamil yang berusia di bawah 19 tahun, sedangkan sisanya akan dilakukan vaksinasi di sekolahnya masing-masing," ujarnya.

Wanita yang akrap disapa Bunda ini menjelaskan, vaksin dalam program tersebut dikelompokkan menjadi empat jenis. Di antaranya untuk anak usia 0-1 tahun, 1-5 tahun, 5-7 tahun, dan 7-19 tahun.

Bahkan demi kesuksesan program, pihaknya telah melakukan persiapan sejak Januari dengan menyosialisasikan kepada masyarakat, menentukan sasaran target, pelatihan kader posyandu dan pematangan.

Ia pun secara pribadu membantu pemberian makanan tambahan (PMT) ke setiap pos berupa bahan makanan yang nantinya diolah oleh kader posyandu di setiap pos untuk diberikan kepada para peserta. "Tentunya PMT ini sesuai dengan nilai gizi yang dibutuhkan sasaran posyandu," tuturnya.

Istri dari Kepala Desa (Kades) Singajaya ini juga menuturkan, sinergitas yang dijalinnya dengan semua pihak di Desa Singajaya ini semata-mata untuk menyukseskan setiap kegiatan posyandu demi kesejahteraan masyarakat.

Termasuk program ORI yang sedang dijalankan. Ia pun merasa yakin untuk pelaksanaan pertama ini bisa mencapai target sasaran karena berbarengan dengan bulan pemberian vitamin A.

"Kami berharap sasaran dalam program ORI ini bisa mencapai 98 persen seperti target yang tecapai dalam imunisasi campak rubella kemarin," harapnya.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Singajaya Yayah (25) mengaku senang dengan adanya vaksinasi ini. Setidaknya dapat mencegah anaknya tertular penyakit difteri. Namun tak bisa dipungkiri, ia pun merasa tegang ketika melihat anaknya disuntik. Sebagai orang tua, ia harus mampu menghiburnya agar tak menangis.

"Alhamdulillah, kami sangat senang dengan adanya program ini, apalagi anak-anak juga diberi makanan di posyandu ini, walaupun yang disuntik itu anak kita, tapi kita yang deg-degan," pungkasnya. (Gie)